Manchester United sedang menghadapi periode yang semakin mengkhawatirkan. Bukan cuma hasil pertandingan yang mengecewakan, performa tim asuhan Michael Carrick juga mulai dipertanyakan. Situasi ini membuat Gary Neville angkat bicara, terutama setelah kekalahan dari Chelsea yang memperpanjang catatan buruk Setan Merah.
Kekalahan 0-2 dari Chelsea membuat Manchester United terpuruk dengan catatan sembilan pertandingan beruntun tanpa kemenangan di seluruh kompetisi. Situasi tersebut menjadi salah satu periode terburuk klub sejak 1984.
Bagi Neville, persoalan MU bukan sekadar kehilangan poin. Ada masalah mentalitas, kedisiplinan, dan kemampuan mempertahankan permainan ketika menghadapi tekanan lawan.
Gary Neville Sebut Manchester United Terjebak dalam Krisis
Mantan kapten Manchester United itu menilai klub sedang mengalami kemunduran yang sulit diabaikan. Ia melihat adanya penurunan hasil sekaligus kualitas permainan yang membuat situasi di Old Trafford semakin tidak nyaman.
Dalam komentarnya, Neville menyebut, “It feels like the club is stuck in a rut.”
Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana Manchester United seolah kesulitan menemukan jalan keluar dari masalah yang terus berulang.
Neville juga menyoroti kebiasaan MU yang mudah kehilangan kendali ketika kebobolan lebih dahulu. Padahal, dalam pertandingan besar, kemampuan menjaga konsentrasi dan tetap disiplin menjadi faktor penting.
Menurutnya, Manchester United harus mampu melewati fase sulit dalam pertandingan tanpa langsung kehilangan kepercayaan diri.
Lisandro Martinez Jadi Sasaran Kritik Gary Neville
Selain membahas kondisi tim secara keseluruhan, Neville secara khusus menyoroti performa Lisandro Martinez.
Bek asal Argentina tersebut kembali mendapat sorotan setelah pertandingan melawan Chelsea. Martinez bahkan harus meninggalkan lapangan lebih awal setelah menerima dua kartu kuning.
Neville merasa kontribusi Martinez di lini pertahanan belum sesuai harapan. Ia menilai sang pemain terlalu sering terlibat dalam kesalahan yang berujung pada gol lawan.
Bahkan, Neville memberikan komentar cukup pedas mengenai situasi tersebut.
“If I was giving away the goals that he is giving away, I wouldn’t be doing interviews.”
Kritik itu memperlihatkan betapa besarnya kekecewaan Neville terhadap performa bek yang pernah menjadi bagian dari skuad juara Piala Dunia bersama Argentina tersebut.
Meski demikian, persoalan pertahanan Manchester United menurut Neville bukan hanya tanggung jawab satu pemain. Organisasi lini belakang secara keseluruhan juga dinilai belum cukup solid ketika mendapatkan tekanan.
Michael Carrick Menghadapi Jadwal Berat
Masalah Manchester United belum tentu selesai dalam waktu dekat. Michael Carrick justru menghadapi rangkaian pertandingan yang berpotensi semakin menguji kemampuannya membenahi tim.
AS Roma menjadi salah satu lawan yang harus dihadapi berikutnya. Setelah itu, Manchester United juga dijadwalkan bertemu Aston Villa dan Liverpool.
Deretan pertandingan tersebut jelas bukan tantangan ringan, terutama ketika kepercayaan diri pemain sedang berada di titik rendah.
Neville memang tidak secara langsung menganggap Manchester United akan terjerumus ke zona degradasi. Namun, ia mengakui situasi klub saat ini cukup mengkhawatirkan.
Manchester United membutuhkan perubahan nyata, bukan sekadar janji untuk tampil lebih baik. Jika masalah konsentrasi, pertahanan, dan mentalitas terus berulang, tekanan terhadap Michael Carrick dan para pemain kemungkinan semakin besar.
Bagi klub sebesar Manchester United, sembilan pertandingan tanpa kemenangan jelas bukan catatan yang bisa dianggap biasa.